Cerita Sex Terbaru, Bermula pada suatu siang ketika aku
melakukan bimbingan suatu tugas akhir. Di jurusanku sebelum masuk ke skripsi,
seorang mahasiswa harus mengambil tugas akhir mengerjakan sebuah desain. Bu Vallen
adalah pembimbingku untuk tugas tersebut. Bimbingan berlangsung singkat saja,
karena Bu Vallen ada tugas lain di luar kampus saat itu. Ketika selesai, Bu Vallen
bilang padaku agar datang ke rumahnya saja pada malam harinya untuk melanjutkan
bimbingan. Malamnya aku datang.
Beritaseks.com Rumahnya ada di sebuah kompleks perumahan
yang sepi dan tenang. Bu Vallen sudah bercerai dari suaminya. Ia berumur
sekitar 37 tahun, dengan seorang anak yang masih bersekolah TK. Meskipun sudah
berumur 37 tahun, namun Bu Vallen masih kelihatan seperti baru lepas ABG saja.
Kulitnya putih, bersih dan segar. Bodinya langsing, meskipun tidak terlalu
tinggi. Pada kaki dan tangannya ditumbuhi bulu-bulu halus, tapi cukup lebat,
yang kontras dengan kulitnya yang putih itu. Saat itu merupakan liburan TK-SD
dan anaknya sedang berlibur di rumah sepupunya yang seumur dengan dia.
Aku dan Bu Vallen sebenarnya memang sudah cukup akrab. Dia
pernah menjadi dosen waliku dan beberapa kali aku pernah datang ke rumahnya,
sehingga aku tidak canggung lagi. Apalagi dalam banyak hal selera kami sama,
misalnya soal selera musik. Setelah bimbingan selesai, kami hanya mengobrol
ringan saja. Kemudian Bu Vallen minta tolong padaku.
“Lhur, slot lemari pakaian di kamarku rusak, bisa minta
tolong diperbaiki?”, begitu katanya malam itu.
Kemudian aku dibawa naik ke lantai dua, ke kamarnya.
Kamarnya wangi. Penataan interiornya juga indah. Kurasa wajar saja, sejak
semula aku tahu ia punya selera yang bagus. Itu pula yang membuat kami akrab,
kami juga sering memperbincangkan soal-soal seperti itu, selain soal-soal yang
berkaitan dengan kampus. Aku tersenyum ketika melihat sebagian isi lemari
pakaiannya.
Lingerie-nya didominasi warna hitam. Aku juga menyukai warna
seperti itu. Warna seperti itu sering pula kusarankan pada Kiki cewekku untuk
dipakainya, karena dengan pakaian dalam seperti itu membuatku lebih bergairah.
Bu Vallen hanya tersenyum melihatku “terkesan” menyaksikan tumpukan
lingerie-nya. Dengan serius kuperbaiki slot pintu lemarinya yang rusak. Ia
keluar meninggalkanku sendirian di kamarnya. Sesaat kemudian pekerjaanku
selesai. Saat itu Bu Vallen masuk. Tiba-tiba tanpa kusangka, ia melap peluh di
dahiku dengan lembut. AC di kamarnya memang dimatikan, sehingga udara gerah.
“Panas Lhur? Biar AC-nya kuhidpkan”, begitu katanya sambil
menghidupkan AC. Saat kekagetanku belum hilang, ia kembali melap keringat di
dahiku.
Dan kali ini bahkan dengan lembut ia mendekatkan wajahnya ke
wajahku. Segera aku menyambar aroma wangi dari tubuhnya hingga membuat
jantungku berdetak tidak seperti biasanya. Bahkan kemudian ia melanjutkan
membuat detak jantungku semakin kencang dengan mendekatkan bibirnya ke bibirku.
Sesaat kemudian kusadari bibirnya dengan lembut telah melumat bibirku. Kedua
tangannya dilingkarkan ke leherku dan semakin dalam pula aroma wangi tubuhnya
terhirup napasku, yang bersama tindakannya melumat bibirku, kemudian mengalir
dalam urat darahku sebagai sebuah sensasi yang indah.
Ia terus melumat bibirku. Lalu tangannya pelan-pelan membuka
satu persatu kancing kemejaku. Saat itu aku mulai mampu menguasai diriku. Maka
dengan pelan-pelan pula kubuka kancing blusnya. Setelah kemejaku lepas, ia
menarik resliting jeansku. Begitu pula yang kulakukan dnegan roknya, kutarik
resliting yang mengunci rokya. Kemudian ia melepaskan bibirnya dari bibirku dan
membuka matanya.
Saat itu aku terbelalak melihat keindahan yang ada di depan
mata. Payudaranya sedang-sedang saja, tapi indah dan terlihat kencang dibungkus
bra hitam bepotongan pendek berenda yang membuat barang indah itu tampak
semakin indah. Payudaranya seolah “hanging wall” yang mengundang seorang
climber untuk menaklukkannya dengan hasrat yang paling liar. Dan menengok ke
bawah, aku semakin dibuat terkesan serta jantungku juga semakin berdetak
kencang. Di balik celana dalam dengan potongan yang pendek yang juga berwarna
hitam berenda yang indah, tersembul bukit venus yang menggairahkan. Di tepi
renda celana itu, tampak rambut yang menyembul indah melengkapi keindahan yang
sudah ada.Berita seks
Kulihat Bu Vallen juga tersenyum menatap lonjoran tegang di
balik celana dalamku. Tangannya yang lembut mengelus pelan lonjoran itu.
Sensasi yang menjelajahi aliran darahku kemudian menggerakkan tanganku mengelus
bukit venusnya. Ia tampak memejam sesaat dengan erangan yang pelan ketika
tanganku menyentuh daging kecil di tengah bukit venus itu. Ia kemudian
melanjutkan tindakannya melumat bibirku dengan lembut. Bibirnya yang lembut
serta napasnya yang wangi kembali membuatku dialiri sensasi yang memabukkan. Ia
rupanya memang sabar dan tidak terburu-buru untuk segera menuju ke puncak
kenikmatan.
Bibirnya kemudian ia lepaskan dari bibirku dan ia
menyelusuri leherku dengan bibirnya. Napasnya membelai kulit leherku sehingga
terasa geli namun nikmat. Kadang-kadang ia mengginggit leherku namun rupanya ia
tidak ingin meninggalkan bekas. Ia tahu bahwa aku punya pacar, karena belum
lama, Kiki kuperkenalkan padanya saat kami bertemu di sebuah toko buku.
Ia kemudian turun ke dadaku dan mempermainkan puting susuku
dengan mulutnya, yang membuat aliran darahku dialiri perasaan geli tapi nikmat.
Semakin ke bawah ia diam sesaat menatap batang yang tersembunyi di balik celana
dalamku, yang waktu itu juga berwarna hitam. Sesaat ia mempermainkannya dari
luar. Ia kemudian dengan lembut menarik celana dalamku. Ia tersenyum ketika
menyaksikan penisku yang tegak dan kencang, seperti mercu suar yang siap
memandu pelayaran gairah libido kewanitaannya.
Dengan lembut ia kemudian mengulum penisku. Maka aliran
hangat yang bermula dari permukaan syaraf penisku pelan-pelan menyusuri aliran
darah menuju ke otakku. Aku serasa diterbangkan ke awan pada ketinggian tak
terukur. Bu Vallen terus mempermainkan lonjoran daging kenyal penisku itu
dengan kelembutan yang menerbangkanku ke awang-awang. Caranya mempermainkan
barang kejantananku itu sangat berbeda dengan Kiki cewekku. Kiki melakukannya
dengan ganas dan panas, sedangkan Bu Vallen sangat lembut seolah tak ingin
melewatkan seluruh bagian syaraf yang ada di situ. Cukup lama Bu Vallen
melakukan itu.
Ketika perjalananku ke awang-awang kurasakan cukup, kutarik
penisku dari dekapan mulut lembutnya. Giliran aku yang ingin membuat dia
terbang ke awang awang. Maka kubuka bra yang menutupi payudara indahnya.
Semakin terperangahlah aku dengan keindahan yang ada di depan mataku. Di
depanku bediri dengan tegak bukit kembar yang indah sekaligus menggairahkan. Di
sekitar puncak bukit itu, di sekitar putingnya yang merah kecoklatan, tumbuh
bulu-bulu halus. Menambah keindahan buah dadnya. Tapi aku tidak memulainya dari
situ. Aku hanya mengelus putingnya sebentar. Itupun aku sudah menangkap desah
halus yang keluar dari bibir indahnya.
Kumulai dari lehernya. Kulit lehernya yang halus licin
seperti porselen dan wangi kususuri dengan bibirku yang hangat. Ia mendesah
terpatah-patah. Apalagi ketika tanganku tak kubiarkan menganggur. Jari-jariku
memijit lembut bukit kenyal di dadanya dan kadang-kadang kupelintir pelan
puting merah kecoklat-coklatan yang tumbuh matang di ujung buah dadanya itu.
Kurasakan semakin lama puting itu pun semakin keras dan kencang. Setelah puas
menyusuri lehernya, aku turun ke dadanya. Dan segera kulahap puting yang
menonjol merah coklat itu. Ia menjerit pelan. Tapi tak kubiarkan jeritannya
berhenti.
Kusedot puting itu dengan lembut. Ya, dengan lembut karena aku
yakin gaya seperti itulah yang diinginkan orang seperti Bu Vallen. Mulutku
seperti lebah yang menghisap kemudian terbang berpindah ke buah dada satunya.
Tapi tak kubirakan buah dada yang tidak kunikmati dengan mulutku, tak tergarap.
Maka tangankulah yang melakukannya. Kulakukan itu berganti-ganti dari buah dada
satu ke buah dadanya yang lain.
Setelah puas aku turun bukit dan kususuri setiap jengkal
kulit wanginya. Dan saat aku semakin turun kucium aroma yang khas dari barang
pribadi seorang perempuan. Aroma dari vaginanya. Semakin besarlah gairah yang
mengalir ke otakku. Tapi aku tidak ingin langsung menuju ke sasaran. Cara Bu Vallen
membuatku melayang rupanya mempengaruhiku untuk tenang, sabar dan pelan-pelan
juga membawanya naik ke awang-awang. Maka dari luar celana dalamnya, kunikmati
lekuk bukit dan danau yang ada di situ dengan lidah, bibir dan kadang-kadang
jari-jemariku. Kusedot dengan nikmat bau khas yang keluar dari sumur yang ada
di situ.Berita seks
Setelah cukup puas, baru kutarik celana dalamnya
pelan-pelan. Aku tersentak menyaksikan apa yang kulihat. Bukit venus yang indah
itu ditumbuhi rambut yang lebat. Tapi terkesan bahwa yang ada di situ terawat.
Meski lebat, rambut yang tumbuh di situ tidak acak-acakan tapi merunduk indah
mengikuti kontur bukit venus itu. Walaupun aku pernah membayangkan apa yang
tumbuh di situ, tapi aku tidak mengira seindah itu. Cerita Bokep
Ya, aku dan teman-temanku sering bergurau begini saat
melihat Bu Vallen: jika rambut di tempat yang terbuka saja subur, apalagi
rambut di tempat yang tersembunyi. Dan ternyata aku bisa membuktikan gurauan
itu. Ternyata rambut di tempat itu memang luar biasa. Bahkan aku yang semula
berpikir rambut yang menghiasai vagina Kiki luar biasa karena subur dan indah,
kemudian menerima kenyataan bahwa ada yang lebih indah, yaitu milik Bu Vallen
ini. Dari samping keadaan itu seperti taman gantung Raja Nebukadnezar saja :-).
Segera berkelebat pikiran dalam otakku, betapa
menyenangkannya tersesat di hutan teduh dan indah itu. Maka aku segera
menenggelamkan diri di tempat itu, di hutan itu. Lidahku segera menyusuri taman
indah itu dan kemudian melanjutkannya pada sumur di bawahnya. Maka Bu Vallen
menjerit kecil ketika lidahku menancap di lubang sumur itu. Di lubang
vaginanya. Bau khas vagina yang keluar dari lubang itu semakin melambungkan
gairahku. Dan jeritan kecil itu kemudian di susul jeritan dan erangan
patah-patah yang terus menerus serta gerakan-gerakan serupa cacing kepanasan.
Dan kurasa ia memang kepanasan oleh gairah yang membakarnya.
Aku menikmati jeritan itu sebagai sensasi lain yang
membuatku semakin bergairah pula menguras kenikmatan di lubang sumur vaginanya.
Lendir hangat khas yang keluar dari dinding vaginanya terasa hangat pula di
lidahku. Kadang-kadang kutancapkan pula lidahku di tonjolan kecil di atas
lubang vaginanya. Di klitorisnya. Maka semakin santerlah erangan-erangan Bu Vallen
yang mengikuti gerakan-gerakan menggelinjang. Demikian kulakukan hal itu sekian
lama.
Kemudian pada suatu saat ia berusaha membebaskan vaginanya
dari sergapan mulutku. Ia menarik sebuah bangku rias kecil yang tadi menjadi
ganjal kakinya untuk mengangkang. Aku dimintanya duduk di bangku itu. Begitu
aku duduk, ia kembali memagut penisku dengan mulutnya secara lembut. Tapi itu
tidak lama, karena ia kemudian memegang penisku yang sudah tidak sabar mencari
pasangannya itu.
Bu Vallen membimbing daging kenyal yang melonjor tegang dan
keras itu masuk ke dalam vaginanya dan ia duduk di atas pangkuanku. Maka begitu
penisku amblas ke dalam vaginanya, terdengar jeritan kecil yang menandai
kenikmatan yang ia dapatkan. Aku juga merasakan kehangatan mengalir mulai ujung
penisku dan mengalir ke setiap aliran darah. Ia memegangi pundakku dan
menggerakkan pinggulnya yang indah dengan gerakan serupa spiral. Naik turun dan
memutar dengan pelan tapi bertenaga.
Suara gesekan pemukaan penisku dengan selaput lendir
vaginanya menimbulkan suara kerenyit-kerenyit yang indah sehingga menimbukan
sensasi tambahan ke otakku. Demikian juga dengan gesekan rambut kemaluannya
yang lebat dengan rambut kemaluanku yang juga lebat. Suara-suara erangan dan
desahan napasnya yang terpatah-patah, suara gesekan penis dan selaput lendir
vaginanya serta suara gesekan rambut kemaluan kami berbaur dengan suara lagu
mistis Sarah Brightman dari CD yang diputarnya.
Barangkali ia memang sengaja ingin mengiringi permainan
cinta kami dengan lagu-lagu seperti itu. Ia tahu aku menyukai musik demikian.
Dan memang terasa luar biasa indah, pada suasana seperti itu. Apalagi lampu di
kamar itu juga remang-remang setelah Bu Vallen tadi mematikan lampu yang
terang. Dengan suasana seperti itu, rasanya aku tidak ingin membiarkan setiap
hal yang menimbulkan kenikmatan menjadi sia-sia. Maka aku tidak membiarkan
payudaranya yang ikut bergerak sesuai dengan gerakan tubuhnya menggodaku begitu
saja. Kulahap buah dadanya itu. Semakin lengkaplah jeritannya.
Matanya yang terpejam kadang-kadang terbuka dan tampak sorot
mata yang aku hapal seperti sorot yang keluar dari mata Kiki saat bercinta
denganku. Sorot matanya seperti itu. Sorot mata nikmat yang membungkus
perasaannya. Sekian lama kemudian ia menjerit panjang sambil meracau..
“Ah.. Aku.. Aku orgasme, Lhur!”
Sesaat ia terdiam sambil menengadahkan wajahnya ke atas,
tapi matanya masih terpejam. Kemudian ia melanjutkan gerakannya. Barangkali ia
ingin mengulanginya dan aku tidak keberatan karena aku sama sekali belum
merasakan akan sampai ke puncak kenikmatan itu. Sebisa mungkin aku juga
menggoyangkan pinggulku agar dia merasakan kenikmatan yang maksimal. Jika
tanganku tidak aktif di buah dadanya, kususupkan di selangkangannya dan mencari
daging kecil di atas lubang vaginanya, yang dipenuhi oleh penisku.
Meskipun Bu Vallen seorang janda dan sudah punya anak, aku
merasa lubang vaginanya, seperti seorang ABG saja. Tetap rapat dan singset.
Otot vaginanya seakan mencengkeram dengan kuat otot penisku. Maka gerakan
pinggulnya untuk menaik turunkan bukit venus vaginanya menimbulkan kenikmatan
yang luar biasa. Dan sejauh ini aku tidak merasakan tanda-tanda lahar panasku
akan meledak.
Bu Vallen memang luar biasa, ia seperti tahu menjaga tempo
permainannya agar aku bisa mengikuti caranya bermain. Ia seperti tahu menjaga
tempo agar aku tidak cepat-cepat meledak. Memang sama sekali tidak ada gerakan
liar. Yang dilakukannya adalah gerakan-gerakan lembut, tapi justru menimbulkan
kenikmatan yang luar biasa, terutama karena aku jarang bercinta dengan
perempuan lembut seperti itu. Sekian lama kemudian aku mendengar lagi ia
meracau..
“Ah.. Ah.. Ini yang kedua.. Lhur, aku orgasme.. Uhh!” Di
susul jeritan panjang melepas kenikmatan itu.
Tapi kemudian ia memintaku mengangkatnya ke ranjang, tanpa
melepaskan penisku yang masih menancap di lubang vaginanya. Ia memintaku
menidurkannya di ranjang tapi tak ingin melepaskan vaginanya dari penisku, yang
sejauh ini seperti mendekap sangat erat. Kulakukan pemintaannya itu. Maka
begitu ia telentang di ranjang, aku masih ada di atasnya. Penisku pun masih
masuk penuh di dalam vaginanya.
Kami melanjutkan permainan cinta yang lembut tapi panas itu.
Kini aku berada di atas, maka aku lebih bebas bermanuver. Maka dengan gerakan
seperti yang sering kulakukan jika aku berhubungan seks dengan Kiki, cepat dan
bertenaga, kulakukan juga hal itu pada Bu Vallen. Tapi sesaat kemudian ia
berbisik dengan mata yang masih terpejam..
“Pelan-pelan saja, Lhur. Aku masih ingin orgasme”.Berita
seks
Aku tersadar apa yang telah kulakukan. Maka kini gerakanku
pelan dan lembut seperti permintaan Bu Vallen. Kini erangan dan desahan
patah-patahnya kembali terdengar. Ia menarik punggungku agar aku lebih dekat ke
badannya. Aku maklum. Tentu ia ingin mendapatkan kenikmatan yang maksimal dari
gesekan-gesekan bagian tubuh kami yang lain. Dan Bu Vallen memang benar, begitu
dadaku bergesekan dengan buah dadanya, semakin besarlah sensasi kenikmatan yang
kudapat. Kurasa demikian juga dengannya, karena jeritannya berubah semakin
santer. Apalagi saat aku juga melumat bibir merahnya yang menganga, seperti
bibir vaginanya sebelum aku menusukkan penisku di situ. Meskipun jeritannya
agak bekurang karena kini mulutnya sibuk saling melumat bersama mulutku, tapi
aku semakin sering mendengar ia mengerang dan terengah-engah kenikmatan. Hingga
beberapa saat kemudian aku mendengar ia meracau seperti sebelumnya..
“Aku.. Ah.. Aku.. Uh.. Yang ketiga.. Aku orgasme, Lhur..
Ahh”
Setelah jeritan panjang itu, matanya terbuka. Tampak sorot
matanya puas dan gembira. Kemudian ia berbisik terengah-engah..
“Aku.. Aku.. Sudah cukup, Lhur. Saatnya untuk kamu”.
Aku tahu yang dia maksudkan, maka kemudian pelan-pelan
semakin kugenjot gerakanku dan semakin bertenaga pula. Ia kini membiarkanku
melakukan itu. Kurasa Bu Vallen memang sudah puas mendapatkan orgasme sampai
tiga kali. Sekian lama kemudian kurasakan lahar panasku ingin meledak. Penisku
berdenyut-denyut enak, menandai bahwa sebentar lagi akan ada ledakan dahsyat
yang akan melambungkanku ke awang-awang. Maka aku berusaha menarik penisku dari
lubang vaginanya yang nikmat itu. Tapi Bu Vallen menahan penisku dengan tangan
lembutnya.
“Biarkan.. Biarkan.. Saja di vaginaku, Lhur.. Aku ingin
merasakan sensasi cairan hangat itu.. Di vaginaku.. Uhh.. Uhh”.
Maka ketika lahar panas dari penisku benar-benar meledak,
kubiarkan ia mengendap di sumur vagina milik Bu Vallen, dengan diiringi
teriakan nikmatku. Setelah itu, Bu Vallen memintaku untuk tetap berada di atas
tubuhnya barang sesaat. Dengan lembut ia menciumi bibirku dan tangannya
mengusap-usap puting susuku. Aku juga melakukan hal yang sama dengan
mengusap-usap buah dadanya yang saat itu basah karena keringat. Dan memang
sensasi yang kurasakan luar biasa.
Cooling down yang diinginkan Bu Vallen itu membuatku merasa
seakan-akan aku sudah sangat dekat dengan Bu Vallen. Aku merasa ia seperti
kekasihku yang sudah sering dan sangat lama bermain cinta bersama. Aku merasa
sangat dekat. Maka begitu aku merasa sudah cukup, aku menarik penisku yang
sebenarnya masih sedikit tegang dari lubang vaginanya. Tampak air muka Bu Vallen
sedikit kacau. Wajahnya berkeringat dan anak rambutnya satu dua menempel di
dahinya. Kami kemudian pergi ke kamar mandi pribadinya di kamar itu. Kamar
mandinya juga wangi. Sambil bergurau, aku menggodanya..
“Ibu.. Justru kelihatan cantik setelah bercinta”. Ia hanya
tertawa mendengar gurauanku.
“Memang setelah bercinta denganmu tadi, seluruh pori-poriku
seperti terbuka. Aku sedikit capai tapi merasa segar”, jawabnya dengan
berbinar-binar.
Ia tampaknya memang puas dengan permainan cinta kami. Di
bawah shower, kami membersihkan diri dengan mandi bersama-sama. Kadang-kadang
kami saling membersihkan satu sama lain. Ia membersihkan penisku dengan sabun
dan aku membersihkan sekitar vaginanya juga. Ia tertawa geli saat aku dengan
halus mengusap-usap vaginanya dan rambut kemaluannya yang lebat itu.
Setelah itu, kami duduk-duduk saja di sofa di depan TV. Kami
menonton TV, sambil mengobrol dan menikmati kopi panas yang ia buat. Tapi ia
masih membiarkan pemutar CD-nya hidup. Kali ini suara Deep Forest yang juga
mistis mengisi suasana ruangan itu.
“Kamu tadi luar biasa, Lhur.” katanya memujiku.
“Meskipun masih muda, kamu bisa bercinta dengan sabar. Aku
sampai mendapat orgasme tiga kali”. Ia tersenyum. Matanya berbinar-binar.
“Ah, itu juga karena Ibu. Gerakan Ibu yang sabar dan lembut
membuat saya juga terpengaruh.” Kami mengobrol sampai malam. Ia kemudian
berkata,
“Menginap di sini saja, Lhur. Ini sudah malam. Besok
pagi-pagi sekali kamu bisa pulang.” Setelah berpikir sejenak aku mengiyakan
sarannya.
“Kalau begitu masukkan saja motormu di garasi” katanya
sambil memberikan kunci garasi.
Maka aku turun untuk memasukkan motor tigerku ke garasi
seperti yang di sarankan Bu Vallen. Ketika aku naik kembali ke atas, ia sudah
berganti pakaian dengan gaun tidur terusan yang tipis dan halus, sehingga
potongan tubuhnya tampak.
“Kopinya tambah lagi, Lhur?” tanyanya.
Aku mengiyakan saja. Saat ia meraih cangkir kopi di meja,
aku menangkap pemandangan indah di balik pakaiannya yang tali pinggangnya tidak
diikat dengan ketat. Ia tidak memakai bra-nya, sehingga buah dadanya yang tadi
kunikmati, tampak dengan jelas. Mulus dan indah. Pemandangan itu membuat aliran
darahku berdesir kembali. Apalagi saat aku mencium aroma parfum dari tubuhnya,
lembut dan menggairahkan. Beda dengan aroma yang dia pakai sebelum kami
berhubungan seks tadi.
Sesaat kemudian ia telah kembali sambil membawa dua cangkir
kopi. Tali pinggang pakaiannya yang semakin longgar membuat pemandangan indah
di baliknya semakin tampak. Apalagi saat ia duduk, pakaiannya yang tersingkap
menampakkan paha putih mulusnya, yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Serta sedikit bukit
venus yang di pinggir celana dalamnya tersembul rambut yang menggairahkan. Kami
kembali mengobrol. Ia kemudian menatapku lama, sambil bertanya, “Kau tidak
capek, Lhur?”.
“Tidak”, jawabku.
Sekali lagi ia menatapku lama lalu tangannya merangkul
leherku dan sesaat kemudian ia telah melumat bibirku kembali dengan lembut.
Kali ini tanganku segera meraba buah dada di balik pakaiannya yang longgar yang
sejak tadi sudah menggodaku. Ia masih melumat bibirku saat tangannya
pelan-pelan membuka kancing kemejaku dan kemudian melanjutkannya dengan menarik
resliting celanaku.
Begitu aku tinggal mengenakan celana dalam, ia juga melepas
gaun tidurnya. Tinggallah kami berdua hanya memakai celana dalam. Kemudian aku
menyambar buah dadanya. Maka semakin lama, seiring dengan jeritan kecilnya yang
terpatah-patah, buah dadanya semakin kenyal dan mengeras. Ia menarik
payudaranya dari mulutku. Kemudian tangannya menarik celana dalamku. Sejenak
kemudian ia telah mengulum penisku yang sejak tadi juga sudah tegang dan keras.
Tapi yang dilakukannya tidak lama.
Ia memintaku untuk tidur telentang di sofa. Lalu ia melepas
celana dalamnya dan telungkup di atasku. Ia membelakangiku. Vaginanya yang
sudah mulai basah berlendir dan kelihatan merah didekatkannya di atas mulutku.
Sedangkan ia segera menangkap penisku yang berdiri tegak dan mengulumnya. Maka
kami bedua saling mengulum, saling menjilati dan saling menyedot. Kadang-kadang
ia berhenti melakukan aksinya. Barangkali karena ia lebih dikuasai oleh
perasaan nikmat karena lubang vaginanya yang merah segar serta klitorisnya
kupermainkan dengan mulut dan lidahku. Ia mendesah mengerang terpatah-patah.Berita
seks
Setelah ia puas dan ingin segera memulai aksi puncak, ia
menggeser pinggulnya menjauh dari mulutku, menuju penisku yang semakin lama
kurasakan semakin keras. Tangannya menangkap penisku dan membimbingnya memasuki
vaginanya. Dengan masih membelakangiku, ia menggoyang pinggulnya dengan lembut.
Tapi sesaat kemudian, ia berbalik menghadapku.
Gerakannya saat ia berbalik menimbukan gesekan pada penisku
yang luar biasa. Membuat sensasi yang semakin nikmat. Maka dengan menghadapku
ia melanjutkan gerakan spiral pinggulnya tetap dengan halus. Naik turun, maju
mundur dan memutar. Aku juga berusaha menggerakkan pinggulku agar menimbulkan
sensasi yang lebih nikmat. Maka semakin santerlah erangan dan desahan dari
mulutnya yang terbuka, sambil matanya terpejam.
Suara-suara itu beriringan dengan lagu Deep Forest dari CD
yang terus mengalun mistis. Tanganku yang semula memegangi pinggulnya di bawanya
naik ke atas agar mempermainkan buah dadanya yang bergoyang-goyang mengikuti
gerakan pinggulnya. Maka kemudian tanganku mempermainkan buah dadanya itu.
Kuelus dan kupelintir kedua putingnya yang coklat kemerahan. Sekian lama
kemudian ia menjerit sambil meracau..
“Uhh.. Uhh.. Aku orgasme.. Aku orgasme, Lhur.. Ah.. Ahh..”
Setelah ia menjerit panjang menandai orgasmenya, ia membuka
mata. Kemudian ia tidur menelungkup dengan beralaskan bantal sofa, dengan kedua
kaki mengangkang terbuka, sehingga belahan vaginanya yang indah, merah dan
basah berlendir tampak sangat menggairahkan. Ia memintaku juga untuk
menelungkup di atasnya.
Dengan kedua tanganku yang memegangi kedua buah dadanya
sekaligus sebagai penahan berat badanku, aku menelungkup di atasnya. Dan
kusodokkan dengan lembut penisku yang masih tegang dan keras ke lubang
vaginanya dari arah belakang. Kini aku yang harus lebih aktif, maka kugerakkan
pinggulku maju mundur, naik turun. Bu Vallen masih terus mengerang dan mendesah
terpatah-patah dengan mata yang terpejam. Tanganku juga tetap aktif
mempermainkan buah dada dan puting susunya. Sedangkan mulutku kupakai untuk
menelusuri lehernya yang jenjang dan halus. Sekian lama kemudian terasa lahar
panasku akan meledak.
“Uhh.. Ahh sebentar lagi.. Sebentar lagi hampir..!”, kataku
terbata-bata.
“Uhh.. Uhh.. Aku juga, Lhur. Jangan kau cabut penismu. Kita
sama-sama.. Ahh.. Ahh”
Sesaat kemudian kami sama-sama menjerit kecil, menandai
puncak kenikmatan yang kami capai bersamaan. Seperti sebelumnya, Bu Vallen
memintaku tidak segera mencabut penisku. Matanya masih terpejam, tapi wajahnya
tersenyum. Aku juga masih mempermainkan buah dadanya dengan lembut. Ia dengan
lembut berkata..
“Aku bahagia sekali malam ini, Lhur..”, yang kemudian
kujawab dengan kalimat yang sama.
Ia kemudian memintaku mencabut penisku dari lubang
vaginanya. Lalu ia telentang dan mencium bibirku dengan lembut. Ia seterusnya
meneguk kopi yang sudah mulai dingin. Tampak bahwa ia kehausan setelah
permainan seks yang indah itu. Dengan masih bertelanjang bulat, ia berjalan ke
luar ruangan itu dan sesaat kemudian membawa sebuah lap dan semprotan air untuk
membersihkan spermaku dan lendir vaginanya yang tumpah di atas sofa. Aku
membantunya membersihkan noda itu.
Setelah itu, seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta,
ia menuntunku menuju kamar mandi pribadinya untuk bersama-sama membersihkan
diri. Karena kecapaian dan memang sudah cukup malam, kami kemudian memutuskan
untuk tidur. Saat aku kebingungan karena aku memakai jeans dan kemeja yang
tentu saja tidak nyaman, Bu Vallen menyarankanku untuk tidur dengan celana
dalam saja.
“Sudah, pakai celana dalam saja, biar suhu AC-nya
kuminimalkan”, demikian katanya.
Aku menyetujuinya. Ia memintaku tidur di ranjangnya. Kulihat
Bu Vallen juga hanya memakai gaun tidur halus dan tipis saja serta celana dalam
tanpa mengenakan bra.
“Aku memang biasa begini, Lhur. Rasanya lebih nyaman dan
bebas bernapas”, katanya.
Di balik selimut, Bu Vallen memelukku dan menyandarkan
wajahnya di dadaku. Maka aku tersenyum saja saat buah dadanya yang hangat dan
lembut, yang menyembul keluar dari gaun tidurnya yang tidak ditalikan dengan erat,
sering terasa bergesekan dengan dadaku. Demikian juga dengan Bu Vallen.
Esoknya, pagi-pagi sekali HP-ku sudah berbunyi. Kiki
menghubungiku. Memang begitu kebiasaannya, yang membuatku sering jengkel. Tapi
jika kutegur, ia hanya akan tertawa-tawa saja. Kangen katanya. Begitu aku
selesai bicara, Bu Vallen bertanya..
“Siapa, Lhur? Pacarmu, ya?”
Ia hanya tersenyum ketika aku mengiyakan pertanyaannya.
Kemudian ia bangkit dari ranjang. Tali gaun tidurnya yang terlepas
memperlihatkan payudaranya yang mulus putih, serta bukit venusnya yang menonjol
indah mengundang gairah. Ia membenahinya dengan tenang, sambil tersenyum
melihatku terpana melihat pemandangan itu. Kemudian ia ke kamar mandi. Segera
terdengar suara yang mendesis, mengalahkan suara kran yang mengalir lambat. Bu Vallen
sedang pipis rupanya. Mendengar suara seperti itu timbul gairahku. Sesaat
kemudian ia keluar dari kamar mandi. Kemudian ia berbisik kepadaku..
“Kau tidak ingin mengulang kenikmatan semalam, Lhur?” Aku
tersenyum memahami yang ia maksudkan.
“Sebentar, Bu..”, jawabku sambil menuju ke kamar mandi,
karena ingin kencing.
Setelah itu kami mengulangi percintaan kami semalam. Badanku
yang segar karena tidur yang nyenyak semalam, membuatku bersemangat melayani
gairah Bu Vallen yang juga tampak segar. Aku merasakan vaginanya lebih hangat
dan justru beraroma lebih menggairahkan pada pagi setelah bangun tidur seperti
itu. Dan bau badannya juga lebih natural.
Kami bercinta sampai Bu Vallen mendapat orgasme tiga kali.
Jadi selama bercinta denganku, Bu Vallen menikmati orgasme sebanyak delapan
kali. Maka siangnya, ketika aku bertemu dengannya di kampus ia tampak sangat
gembira. Wajahnya berbinar dan kelihatan sangat bergairah menjalani
aktivitasnya hari itu. Begitulah, kini hampir setiap akhir pekan aku selalu
mendapat SMS dari Bu Vallen yang bunyinya begini:
“Kau tidak sibuk malam nanti kan, Lhur? Bisa datang ke
rumah?” Maka setiap mendapat SMS seperti itu segera selalu terbayang sesuatu
yang menyenangkan yang akan kami lakukan bersama.Berita seks
Setiap akhir pekan anaknya selalu bermalam di rumah
sepupunya di luar kota sehingga Bu Vallen sendirian di rumah. Dan pembantunya
juga pulang karena hanya datang pada siang hari saja. Setiap aku mendapat SMS
itu, aku juga segera menghapusnya agar tidak terbaca oleh Kiki. Di kampus aku
juga berusaha bersikap biasa saja dengan Bu Vallen.
Ia dosen yang baik dan dihormati oleh semua orang di kampus.
Aku sedikitpun tidak ingin merusak citranya. Dan ia pun seorang yang
professional, meskipun di luar kami sering bercinta, ia tetap menghargaiku
sebagai mahasiswanya dan ia tetap membimbing tugasku dengan serius. Sesuatu
yang sangat aku sukai. Bercinta dengannya bukan sekedar mendapat kepuasan
libido, aku merasakan sesuatu yang lain. Entah apa itu.